Kembali
19 Feb 2026

Sejarah Puasa Ramadhan: Warisan Ibadah Umat Terdahulu

Puasa Ramadhan bukanlah ibadah yang baru dikenal dalam Islam. Sejak zaman para nabi terdahulu, puasa telah menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 bahwa kewajiban puasa juga telah diberlakukan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW, agar mereka menjadi pribadi yang bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah universal yang telah mengakar dalam sejarah panjang peradaban manusia.

Oleh: Khoirul Mudawinun Nisa’. M.Pd.I

MAN 2 Tulunggaung

 

Puasa Ramadhan bukanlah ibadah yang baru dikenal dalam Islam. Sejak zaman para nabi terdahulu, puasa telah menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 bahwa kewajiban puasa juga telah diberlakukan kepada umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW, agar mereka menjadi pribadi yang bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah universal yang telah mengakar dalam sejarah panjang peradaban manusia.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi Adam AS telah melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan, yang kemudian dikenal sebagai ayyamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15). Nabi Nuh AS juga berpuasa sebagai bentuk syukur setelah selamat dari banjir besar. Nabi Musa AS berpuasa 40 hari sebelum menerima wahyu di Bukit Sinai, dan berpuasa pada 10 Muharram (Asyura) sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dari Fir’aun. Nabi Daud AS dikenal dengan puasa selang-seling sehari puasa sehari tidak, sementara Maryam, ibunda Nabi Isa AS, menjalankan puasa dengan menahan diri dari makan, minum, dan berbicara. Tradisi puasa juga ditemukan pada bangsa-bangsa kuno seperti Mesir, India, Yunani, dan Romawi, serta masih dipraktikkan oleh Yahudi dan Nasrani dengan tata cara berbeda.

Dalam Islam, kewajiban puasa mengalami beberapa tahapan. Awalnya, puasa Asyura (10 Muharram) diwajibkan ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah. Setelah itu, turun perintah wajib puasa Ramadhan (QS. Al-Baqarah [2]:185). Pada masa awal, aturan puasa cukup berat, yakni tidak boleh makan dan berhubungan suami istri setelah tidur malam hingga magrib keesokan harinya. Namun, melalui proses bertahap, Allah menyempurnakan aturan tersebut dengan memperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami-istri hingga terbit fajar (QS. Al-Baqarah [2]:187). Bahkan pada awalnya umat Islam diberi pilihan antara berpuasa atau membayar fidyah, sebelum akhirnya puasa Ramadhan diwajibkan penuh bagi yang mampu.

Sejarah ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ibadah universal yang telah menjadi bagian dari perjalanan spiritual manusia sejak dahulu. Melalui proses pensyariatan yang bertahap, Islam menegaskan bahwa puasa Ramadhan adalah sarana pembinaan ketakwaan, kesabaran, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

 

Sumber: Dr. Al Fitri Johar, S.Ag., S.H., M.H.I., Menilik Sejarah Kewajiban Puasa Ramadhan