Kembali
27 Feb 2026

Peristiwa Nuzulul Qur’an dalam Lintasan Sejarah

Nuzulul Qur'an, peristiwa turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu momen paling monumental dalam sejarah peradaban manusia dan Islam. Peristiwa ini tidak hanya menandai awal misi kenabian Muhammad SAW, tetapi juga menjadi titik balik bagi transformasi spiritual, sosial, dan intelektual umat manusia selama lebih dari 14 abad. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingatinya pada malam 17 Ramadan sebagai bentuk syukur dan refleksi.

Ditulis oleh: Dr. Ahmad Farid Dzulfiqar, M.Pd.

 

Nuzulul Qur'an, peristiwa turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW, merupakan salah satu momen paling monumental dalam sejarah peradaban manusia dan Islam. Peristiwa ini tidak hanya menandai awal misi kenabian Muhammad SAW, tetapi juga menjadi titik balik bagi transformasi spiritual, sosial, dan intelektual umat manusia selama lebih dari 14 abad. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingatinya pada malam 17 Ramadan sebagai bentuk syukur dan refleksi.

 

Pengertian Nuzulul Qur'an

Secara bahasa, nuzulul berasal dari kata Arab nazala yang berarti 'turun'. Secara istilah, Nuzulul Qur'an merujuk pada proses turunnya wahyu ilahi kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril AS. Para ulama membagi proses penurunan Al-Qur'an menjadi dua tahap utama:

1.     Turun sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia.

2.     Turun secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW selama 22 tahun 2 bulan 22 hari (610–632 M).

 

Malam Pertama Wahyu: 17 Ramadan di Gua Hira

Sejarah mencatat bahwa wahyu pertama Al-Qur'an turun pada malam 17 Ramadan, bertepatan dengan tahun 610 Masehi, saat Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat (menyepi) di Gua Hira, terletak di Jabal Nur (Gunung Cahaya) sekitar 3 km dari Kota Makkah. Malaikat Jibril mendatangi beliau dan memeluknya erat tiga kali seraya menyampaikan wahyu pertama: surah Al-'Alaq ayat 1-5.

 

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)

 

Ayat pertama ini mengandung perintah iqra' (bacalah), yang menjadi simbol Islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan literasi.

 

Fakta Historis Penting Seputar Nuzulul Qur'an

Berikut beberapa data dan fakta historis yang perlu diketahui:

1.     Al-Qur'an terdiri dari 30 juz, 114 surah, dan 6.236 ayat yang diturunkan dalam kurun waktu lebih dari dua dekade.

2.     Sekitar 86 surah diturunkan di Makkah (Makkiyah) dan 28 surah diturunkan di Madinah (Madaniyah).

3.     Pengumpulan dan pembukuan Al-Qur'an secara resmi dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq (632–634 M) atas inisiatif Umar bin Khattab, dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.

4.    Mushaf standar (Mushaf Utsmani) disebarluaskan ke berbagai wilayah Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan (644–656 M).

 

Makna dan Relevansi Nuzulul Qur'an di Era Modern

Nuzulul Qur'an bukan hanya peristiwa sejarah yang layak dikenang, melainkan juga sumber inspirasi yang tak pernah kering. Di era digital ini, peringatan Nuzulul Qur'an mendorong umat Islam untuk kembali berinteraksi dengan Al-Qur'an secara lebih mendalam, baik melalui tilawah, tadabbur, maupun pengkajian tafsir.

Berdasarkan laporan Global Islamic Economy Report 2023, lebih dari 1,9 miliar umat Islam di dunia menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa teks suci yang pertama kali turun di Gua Hira lebih dari 14 abad silam tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat modern.

 

Kesimpulan

Peristiwa Nuzulul Qur'an adalah fondasi dari seluruh bangunan ajaran Islam. Ia bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat bahwa Al-Qur'an hadir sebagai hudan lin-naas, petunjuk bagi seluruh umat manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Memperingati Nuzulul Qur'an seharusnya mendorong setiap Muslim untuk tidak hanya membacanya, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sumber Referensi

Al-Qur'an Al-Karim (QS. Al-'Alaq: 1-5; QS. Al-Baqarah: 185)

Manna' Al-Qaththan. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an. Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2013.

Kementerian Agama RI. Sejarah Al-Qur'an. Jakarta: Balitbang Kemenag, 2019.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur'an. Bandung: Mizan, 2014.