Kembali
18 Oct 2025

DARI PENA MENUJU CINTA

Di tengah derasnya arus modernitas dan derasnya perdebatan identitas keislaman, kita menyaksikan fenomena yang mengusik kesadaran sejarah dengan adanya pengaburan jejak tokoh-tokoh penyebar Islam di bumi Nusantara. Beberapa tahun terakhir, media sosial dan pemberitaan lokal menyoroti peristiwa pengrusakan makam-makam tua, serta polemik klaim silsilah dan status makam di sejumlah daerah Jawa Timur.

Oleh : Dr. Ahmad Farid Dzulfiqar, M.Pd.

 

Di tengah derasnya arus modernitas dan derasnya perdebatan identitas keislaman, kita menyaksikan fenomena yang mengusik kesadaran sejarah dengan adanya pengaburan jejak tokoh-tokoh penyebar Islam di bumi Nusantara. Beberapa tahun terakhir, media sosial dan pemberitaan lokal menyoroti peristiwa pengrusakan makam-makam tua, serta polemik klaim silsilah dan status makam di sejumlah daerah Jawa Timur.

Fenomena ini seolah menjadi cermin buram dari bagaimana kita sebagai umat Islam di Nusantara terkadang lalai memahami akar sejarah dakwah kita sendiri. Sejarah Islam di Indonesia tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari perjumpaan antara nilai langit dan tanah air, diantara Islam yang dibawa para ulama dengan budaya lokal yang hidup di hati masyarakat. Namun kini, di era “persinggungan nasab”, ketika sebagian pihak lebih sibuk menegaskan garis keturunan ketimbang meneruskan semangat dakwah islam, kita justru diingatkan akan satu hal penting yakni menulis sejarah bukan hanya merekam masa lalu, tetapi juga menjaga jati diri peradaban.

Penulisan sejarah para tokoh penyebar Islam bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bentuk ibadah intelektual. Setiap nama yang kita abadikan, setiap jejak dakwah yang kita dokumentasikan, sejatinya adalah bagian dari jihad bil qalam perjuangan dengan pena. Ketika nisan-nisan tua hancur, dan makam-makam didebatkan statusnya, maka tulisanlah yang akan menjadi saksi. Pena yang jujur lebih abadi daripada batu nisan yang rapuh.

Ulama di Era Walisongo seperti Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Raden A’inul Yaqin Sunan Giri, Raden Sahid Sunan Kalijogo dan Ulama di Era Nahdlatul Ulama seperti Syaikhona Cholil, Hadratus syaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri dan KH. As’ad Syamsul Arifin, semuanya berkontribusi dalam membentuk wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin di bumi Jawa. Menulis sejarah mereka bukan untuk mengultuskan, melainkan untuk meneladani, agar generasi hari ini memahami bahwa Islam tumbuh karena keteladanan, bukan klaim nasab semata.

Keturunan mulia, baik dari jalur apapun itu, sejatinya bukan untuk dipertentangkan. Mereka adalah mata rantai dakwah yang bersama-sama menyinari Nusantara. Namun ketika nasab dijadikan alat pembeda, bukan sarana penyatu, maka sejarah kehilangan makna spiritualnya.

Justru di sinilah pentingnya penulisan sejarah yang objektif dan kontekstual. Melalui dokumentasi yang ilmiah dan empatik, kita dapat merawat warisan spiritual tanpa terjebak dalam glorifikasi keturunan. Sejarah Islam di Jawa Timur tidak lahir dari satu darah, melainkan dari satu semangat yakni semangat mengislamkan Nusantara dengan hikmah, budaya, dan kasih sayang.

Refleksi ini mengajak kita untuk bertanya, apakah kita hanya akan menjadi pembaca sejarah, ataukah penulis sejarah baru bagi generasi berikutnya?, Ketika sebagian orang sibuk memperdebatkan siapa yang lebih berhak atas warisan spiritual, mari kita memilih jalan ketiga yakni menuju jalan para penulis. Jalan mereka yang berusaha merekam kebenaran, menulis dengan niat yang bersih, dan menjaga jejak agar tak terhapus oleh waktu.

Sebab, sebagaimana dikatakan oleh seorang sejarawan Muslim, “Bangsa yang tidak menulis sejarahnya sendiri, akan ditulis oleh bangsa lain dengan cara yang tidak mereka sukai.” Menulis tentang tokoh-tokoh penyebar Islam di Nusantara bukan semata mengabadikan nama, tetapi menghidupkan kembali semangat dakwah yang santun, terbuka, dan membumi, sebagaimana yang diwariskan para ulama terdahulu.

Ketika batu nisan bisa hancur, silsilah bisa diperdebatkan, dan makam bisa hilang, maka tulisan menjadi saksi terakhir dari cinta kita kepada para pendahulu. Dengan menulis, kita tidak hanya mengenang, tapi juga meneruskan: meneruskan estafet keilmuan, kebudayaan, dan spiritualitas yang telah menumbuhkan Islam di bumi Nusantara.

Mari menulis, agar sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga cermin untuk masa depan. Karena menulis sejarah bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa, agar kita pun kelak dikenang sebagai bagian dari mereka yang menjaga cahaya Islam tetap menyala di tengah zaman yang kian gelap oleh lupa.